“Kami selalu pergi ke sekolah untuk mencurahkan perhatian kepada anak-anak. Namun, kami bertanya-tanya mengapa mereka sering putus sekolah. Terutama saat musim tanam dan musim panen, tingkat kehadiran mereka sangat rendah. Terkadang, di satu sekolah yang memiliki lebih dari 300 murid, yang datang hanya sekitar 30 sampai 40 murid saja,” kata Guo Liang-ming, relawan Tzu Chi Malaysia.
“Kami melihat bahwa anak-anak ini seolah tidak memiliki keyakinan terhadap pendidikan dan tidak fokus belajar. Oleh karena itu, kami mulai melakukan kunjungan ke rumah. Dari situlah kami tahu bahwa ini bukan kesalahan anak-anak, melainkan karena para orang tua tidak mementingkan pendidikan anak mereka. Jadi, mengundang mereka untuk mendengarkan ceramah Master,” lanjut Guo Liang-ming.
“Kami sudah menjalankan ini selama lebih dari satu tahun. Selangkah demi selangkah, kami mengikuti arahan Master. Setiap kali kembali, kami melaporkannya kepada Master dan Master selalu memberikan arahan pada kami untuk terus melangkah maju,” pungkas Guo Liang-ming.
Kita berharap bisa mentransformasi kehidupan mereka dengan memberikan pendidikan yang baik. Dengan begitu, mereka bisa terbebas dari kemiskinan. Inilah satu-satunya cara.
“Lumbini berada di Nepal dan merupakan tempat kelahiran Buddha. Di sana, kami menjalankan program ‘Satu Desa, Satu Xieli’ dengan harapan semua orang bisa mendengar, menyebarkan, dan mempraktikkan Dharma. Tim relawan luar negeri kami berjumlah 4 orang. Misi kami ialah mendampingi, menginspirasi, dan mewariskan,” kata Li Jin-yu, relawan Tzu Chi Malaysia.
Melihat semua itu, hati saya sangat tersentuh. Kalian benar-benar memiliki hati yang tulus. Para Bodhisatwa Malaysia benar-benar memahami isi hati saya dan peduli terhadap kampung halaman Buddha. Saya sendiri tidak dapat ke sana, tetapi kalian mewakili saya untuk mewujudkan harapan ini. Kalian datang ke kampung halaman Buddha dan mendekati orang-orang di sana dengan penuh cinta kasih.
Seperti yang kalian lihat sendiri, kehidupan mereka memang penuh penderitaan. Itu sama seperti yang dilihat Buddha lebih dari dua ribu tahun yang lalu, yaitu penderitaan. Setelah melihat penderitaan itu, hendaknya semua bersyukur karena bisa hidup dengan bahagia. Terlebih lagi, kita dapat memiliki tekad yang sama untuk bergabung di Tzu Chi dan mendengarkan Dharma sehingga tumbuh cinta kasih yang tulus untuk menjangkau mereka yang menderita.
Saya percaya ketulusan hati kalian akan makin besar. Namun, semua ini membutuhkan waktu. Tujuan kita tak bisa tercapai dalam satu atau dua tahun saja. Kita memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mendekati mereka dan membuat mereka percaya pada ketulusan kita. Ketika mereka sudah bisa menerima kita dengan tenang, apa yang kita ajarkan pun akan mereka pelajari dengan sungguh-sungguh.
Bahkan, untuk kerajinan tangan seperti ini saja, selama hati mereka tergerak, pikiran mereka pun terasah dan tangan mereka akan bekerja sehingga bisa melakukan banyak hal. Saat memegang hasil karya ini, saya merasa sangat kagum karena ini tidaklah mudah. Butuh kesabaran untuk membuatnya. Selain itu, saat disentuh pun terasa menusuk sehingga bisa dibayangkan tangan mereka pasti sakit saat menganyamnya. Namun, mereka bisa menahan rasa sakit itu dan sungguh-sungguh menyelesaikan karya ini. Saya merasa sangat kagum kepada mereka.
Oleh karena mereka mampu bersabar dalam penderitaan dan mau bersungguh-sungguh, hendaknya kita menginspirasi dan membimbing mereka. Selama ada orang yang bertekad untuk membangkitkan kemampuan mereka, mereka tidak perlu takut kelaparan. Kita pasti bisa mentransformasi kehidupan mereka, bukan hanya keluar dari kemiskinan, melainkan bisa mencapai kesejahteraan. Semua ini membutuhkan tekad.
Singkat kata, selama kita melangkah masuk ke suatu tempat dan tulus menjalin hubungan dengan orang-orang di sana, apa yang kalian ajarkan pasti akan mereka terima. Mentransformasi kehidupan mereka adalah misi kita. Sangat jarang ada jalinan jodoh seperti ini. Jika sudah terjalin, kita harus meneguhkan tekad dan meluangkan lebih banyak waktu untuk membina benih-benih di sana.
Carilah beberapa orang terlebih dahulu dan bimbing mereka hingga bisa bersungguh hati. Setelah itu, mereka bisa membuka kelas dan membimbing lebih banyak orang lagi. Saya melihat rencana kalian tentang program “Satu Desa, Satu Xieli”. Rencana ini sangatlah baik. Bahkan, “Satu Desa, Tiga Xieli” juga bisa dilakukan. Selama benih-benih itu dibina dengan baik, saya percaya tempat itu pasti bisa berubah.
“Pada tahun 2023, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Bodh Gaya, India, saya melihat sebuah tempat yang gersang dan penuh keterbatasan. Setiap pemandangan di depan mata benar-benar mengguncang hati saya. Selain mendaftar sebagai tim konsumsi, saya juga memikul tanggung jawab pengembangan keterampilan di kelas menjahit. Mulai dari belajar membuat kantong kecil hingga menjahit seragam untuk sekolah negeri, setiap langkah dijalani dengan tidak mudah. Namun, para relawan tetap berani memikul tanggung jawab,” kata Lin Yu-jin, relawan Tzu Chi Malaysia.
Kalian memiliki jalinan jodoh sehingga bisa membantu begitu banyak orang. Inilah hal yang paling penting. Bantuan materi hanyalah yang kedua. Yang terpenting ialah membawa Dharma ke sana dan menyemangati setiap orang untuk menyisihkan segenggam beras.
Lihatlah, mereka yang hidup dalam kemiskinan pun bisa menyisihkan segenggam beras dari dalam panci. Kita bisa melihat bahwa akumulasi segenggam beras yang disisihkan orang-orang selama sebulan dapat memenuhi satu wadah itu. Jika ratusan keluarga menuangkannya bersama-sama, jumlahnya bisa seperti sebuah bukit kecil.
Beras itu kemudian dapat membantu ratusan orang lagi. Dengan cara ini, mereka yang kurang mampu pun memiliki kesempatan untuk berbuat baik sehingga dapat menghimpun dan menciptakan berkah. Ini akan membawa berkah bagi kehidupan mendatang mereka. Jika kalian tidak datang membantu, Bapak Giana Manjhi akan terus mengemis. Namun, setelah kalian datang, tangan yang sebelumnya hanya meminta itu kini bisa berubah menjadi tangan yang membantu orang lain.
Saat kalian tidak ada di sana, dia bisa membantu menyurvei kondisi orang yang menderita. Ketika kalian datang, dia akan memberi tahu kalian apa kesulitan yang dialami setiap keluarga sehingga kita punya kesempatan untuk membantu mereka. Jika ada yang perlu dibawa berobat, bawalah berobat. Jika ada kesulitan lain, selama kalian datang dan menerima kasusnya, kalian bisa membantu.
Saya berharap kalian dapat memilih beberapa warga setempat untuk dibina. Dengan begitu, mereka nantinya bisa membantu masyarakat di tempat mereka sendiri. Tentu saja, setiap kasus tetap perlu dilaporkan ke Griya Jing Si. Kita juga harus menyiapkan barang bantuan setiap bulan. Berhubung mereka sendiri hidup dalam kemiskinan, kita harus mendukung mereka agar dapat membantu orang lain. Jadi, kita tetap harus mendukung mereka. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik. Terima kasih.
Mendengarkan Dharma, mempraktikkan ikrar, dan melihat penderitaan
Menginspirasi dengan tulus dan menyatukan hati
Mentransformasi kehidupan mereka yang miskin dan menciptakan berkah
Membina benih dan meneruskan jalinan jodoh bajik