“Empat puluh tahun yang lalu, rumah sakit ini dibangun atas dasar cinta kasih. Jadi, kita harus terus mengembangkan jiwa kebijaksanaan dengan menjadikan rumah sakit ini sebagai ladang pelatihan. Saat itu, kami juga tidak tahu apa yang bisa dilakukan. Jadi, kami melakukan apa pun yang bisa dikerjakan,” kata Yan Jing Xi Kepala Kantor, relawan RS Tzu Chi Hualien.

“Semuanya masih ingat bahwa pada masa itu, kami membuat kapas pentol, melipat kain kasa, melipat selimut, melipat pakaian, bahkan menjaga pintu. Hal-hal inilah yang paling membekas dalam ingatan kami. Apa pun yang dibutuhkan rumah sakit, itulah yang kami kerjakan. Dahulu, seperti itulah kami membantu,” pungkas Yan Jing Xi.

Saya sangat berterima kasih. Selain bersyukur atas hadirnya para dokter dan perawat, saya juga sangat bersyukur dengan adanya para relawan. Tanpa Tzu Chi, tidak akan ada rumah sakit. Adanya Tzu Chi tidak terlepas dari seluruh relawan.

Sebelum adanya pelayanan medis, mereka sudah terlebih dahulu bersumbangsih bagi masyarakat yang kurang mampu. Baik dengan menggalang dana maupun mengunjungi orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Apa pun kebutuhan dan kesulitan yang mereka hadapi, para relawan selalu hadir. Setinggi apa pun pegunungannya, kita tetap pergi; seberapa terpencil pun pedesaannya, kita tetap pergi. Semuanya dimulai dari membantu masyarakat yang kurang mampu.

Bersamaan dengan membantu yang kurang mampu, kita juga membimbing mereka yang berada. Untuk menolong sesama, relawan harus menggalang tetes demi tetes sumbangsih sekaligus menjelaskan prinsip kebenaran dan menjalin hubungan yang baik. Itulah yang dilakukan para relawan. Sebelum misi kesehatan ada, mereka sudah terlebih dahulu membentangkan jalan. Oleh karena itulah, Tzu Chi dapat menjadi seperti ini.

“Kami bersedia mengenakan rompi relawan untuk terjun ke tengah masyarakat dan senantiasa menjaga tekad awal. Kami bersedia menjadi pelita yang menerangi jalan bagi orang lain. Kami akan memandang setara semua makhluk dan menerangi ladang batin semua orang.”

“Kami bersedia memikul tanggung jawab dan bersumbangsih dengan penuh sukacita. Kami adalah batu karang yang kokoh yang akan mewariskan silsilah Dharma serta berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Kami akan menggenggam erat tangan Master, membangkitkan hati Buddha dan tekad Guru, serta tidak akan pernah menyerah.”

Lihatlah, dahulu mereka semua berusia 20 hingga 30 tahun, bahkan paling tinggi 40 hingga 50 tahun. Sekarang, ketika saya menanyakan usia mereka, mereka menjawab, “Coba saya ingat-ingat kembali. Tahun ini, saya berusia lebih dari 80 tahun.” Ada yang berkata, “Master, saya sudah 90 tahun.”

Dahulu, ketika mereka masih berada di usia paruh baya, bahkan ketika lebih muda dari usia paruh baya, mereka sudah bersedia bersumbangsih. Mereka juga harus mengurus keluarga sekaligus menjalankan misi Tzu Chi. Mereka tidak pernah menyerah hingga sekarang dan masih terus mendampingi Tzu Chi. Jadi, bagaimana mungkin saya tidak berterima kasih kepada mereka?

Seperti Kakak Yan, ketika beliau datang bertemu dengan saya, saya sudah mengetahui sejak awal bahwa beliau akan pergi ke Jepang untuk memperdalam ilmu merangkai bunga. Namun, setelah mendengar bahwa saya membutuhkan relawan rumah sakit, beliau dengan tegas memutuskan untuk tetap tinggal di Hualien hingga sekarang.

Masa mudanya sepenuhnya didedikasikan untuk Tzu Chi. Di rumah sakit, terkadang beliau baru pulang tengah malam. Terkadang, pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, beliau sudah harus berangkat. Semua ini bukanlah hal yang mudah. Namun, setiap hari, beliau selalu datang dalam pertemuan pagi. Selama itu, saya tidak pernah mendengar satu keluhan pun darinya.

Meski kasus yang dihadapi sangat sulit, beliau tetap berbicara sambil tersenyum. Makin sulit persoalannya, makin lebar pula senyumannya. Beliau sangat ceria. Sesungguhnya, saya sering berpikir, keceriaannya itu justru menunjukkan betapa berat perjuangan batinnya. Jadi, beliau mengganti ekspresinya dan menggunakan keceriaan untuk menutupi kepedihannya.

Saya selalu bersyukur atas pendampingan para relawan. Tanpa relawan yang datang mendampingi, beliau juga tidak mungkin dapat tetap seceria itu. Hendaknya kita saling berterima kasih. Tanpa beliau yang memimpin, kalian juga tidak akan tahu bagaimana harus melangkah. Singkat kata, manusia selalu membutuhkan kedua tangan. Hanya dengan satu telapak tangan, sulit menghasilkan suara tepuk tangan. Kita membutuhkan kedua tangan untuk bertepuk.

Makin banyak orang, makin banyak pula tangan yang kita miliki. Di dalam ajaran Buddha ada Bodhisatwa Avalokitesvara yang memiliki seribu tangan. Seribu tangan ini melambangkan lima ratus orang. Jika lima ratus orang bertepuk tangan bersama-sama, suara yang dihasilkan tentu akan menggema.

Semangat Tzu Chi yang berlandaskan ajaran Buddha membuat kita semua makin bersatu. Ada pula orang yang patut kita syukuri, yaitu mereka yang bukan umat Buddha, tetapi tetap mendukung Tzu Chi dan menjadi anggota komite Tzu Chi. Meski mereka berkata bahwa mereka bukan umat Buddha dan akan ke gereja untuk beribadah, saya tetap sangat bersyukur dan mendoakan mereka. Saya bersyukur karena meskipun berasal dari agama yang berbeda, kita memiliki satu arah yang sama, yaitu cinta kasih agung tanpa pamrih.

Guru saya selalu berkata, “Sepanjang hidup ini, kamu harus berjuang demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk.” Jika ajaran Buddha tidak disebarluaskan, bagaimana kita dapat berjuang demi ajaran Buddha? Jadi, misi kesehatan merupakan cara yang terbaik untuk menyebarkan semangat ajaran Buddha. Selain itu, misi ini juga selaras dengan semangat Bodhisatwa Avalokitesvara menyelamatkan orang dan kesabaran Bodhisatwa Ksitigarbha.

Jika Bodhisatwa Ksitigarbha tidak memiliki kesabaran, bagaimana mungkin beliau dapat menaklukkan semua makhluk yang berwatak keras di dunia ini? Jika tidak ada kelembutan, cinta kasih, seribu tangan, dan seribu mata Bodhisatwa Avalokitesvara, bagaimana mungkin setiap keluarga yakin terhadap Bodhisatwa Avalokitesvara dan Buddha Amitabha?

Ketika meyakini ajaran Buddha, kita meyakini Bodhisatwa Avalokitesvara, Buddha Amitabha, dan Bodhisatwa Ksitigarbha. Semangat dan ajaran Mereka cocok dengan kondisi batin orang-orang dan mengajak kita untuk bersama-sama menuju satu arah kebaikan. Jadi, RS Tzu Chi senantiasa bersama-sama menciptakan kekuatan cinta kasih.

Saya berterima kasih kepada semua relawan yang telah membangkitkan kekuatan cinta kasih untuk mendukung Tzu Chi. Saya berterima kasih kepada mereka yang sejak awal memimpin dan membuka jalan. Mereka telah mencurahkan tenaga dan mendedikasikan diri untuk Tzu Chi tanpa keraguan.

Saya juga berterima kasih kepada para dokter dan perawat. Tanpa dokter, bagaimana kita dapat menyelamatkan pasien? Jika tidak ada perawat, bagaimana mungkin ketika bel panggilan ditekan, ada perawat yang langsung berlari ke sisi tempat tidur pasien? Jadi, kita harus saling berterima kasih.

Saya berterima kasih kepada para dokter dan perawat. Saya terlebih berterima kasih kepada para relawan. Hendaknya para relawan mewakili saya untuk beranjali kepada seluruh badan misi Tzu Chi, termasuk para dokter dan perawat. Singkat kata, hendaknya kita bersungguh hati untuk saling berterima kasih. Terima kasih. Saya mendoakan kalian semua.

Membentangkan jalan di puncak gunung dan tepian sungai

Menerangi ladang batin dengan rompi relawan

Menghimpun kekuatan ikrar dengan seribu tangan dan seribu mata

Menapaki Jalan Bodhisatwa untuk memberi pertolongan saat mendengar suara penderitaan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 18 Agustus 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 20 Agustus 2026