“Hari ini, saya ingin melaporkan kepada Master mengenai perkembangan misi kesehatan kami selama tiga tahun terakhir. Saat musim dingin, cuacanya sangat dingin, kadang mencapai 11 hingga 12 derajat, tetapi para pasien sudah mulai mengantre sejak pukul 5.30 pagi. Tim kami tidak pernah menyerah pada satu pasien pun. Selama mereka datang, kami pasti akan membantu hingga selesai,” kata Chen Ji-min, Wakil ketua Tzu Chi Malaysia.
“Ada seorang pasien yang harus dirujuk dan hal yang sangat menyentuh bagi saya ialah dokter kami mendampingi pasien hingga ke ambulans. Bahkan, beliau juga memastikan apakah peralatan di dalam ambulans sudah cukup dan aman. Tindakan seperti ini menunjukkan adanya budaya humanis Tzu Chi. Saya sangat berterima kasih kepada tim medis ini. Berkat bimbingan relawan luar negeri, hati mereka pun perlahan berubah,” pungkas Chen Ji-min.
Saya berterima kasih kepada kalian semua karena memiliki cinta kasih berkesadaran. Itulah hati Bodhisatwa. Bodhisatwa tidak takut menghadapi kondisi yang sulit. Kalian bersedia pergi ke tempat yang penuh penderitaan. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus terjun ke tengah masyarakat dengan semangat Bodhisatwa. Warga setempat mengalami berbagai penderitaan dan kita bisa terlebih dahulu meringankan penderitaan akibat penyakit.
Dalam kehidupan ini, penderitaan paling berat ialah penyakit. Melihat bagaimana kalian mendedikasikan diri, saya merasa sangat tersentuh dan makin yakin terhadap tempat tersebut. Selama ada kalian, saya yakin bahwa pelayanan medis di sana akan penuh dengan harapan. Bukan hanya pelayanan medis yang memiliki harapan, yang lebih penting ialah dapat membina tenaga medis yang berkualitas.
Para relawan Tzu Chi Singapura dan Malaysia bersedia untuk tinggal di sana dalam jangka panjang. Di atas sebuah lahan kosong, kita membangun tekad dan ikrar untuk membangun fasilitas kesehatan dan pendidikan. Saya melihat bagaimana para guru mempersiapkan sekolah dan menyambut anak-anak yang datang ke sekolah. Inilah proyek harapan. Inilah harapan yang kita pikirkan sekarang, yaitu harapan bagi dunia dan pendidikan. Semuanya penuh dengan harapan.
Proyek ini sedang menunggu kita untuk menyelesaikannya. Inilah wujud dari kebenaran, kebajikan, dan keindahan. “Kebenaran” berarti ketulusan hati kita; “kebajikan” adalah upaya kita untuk mewujudkan pendidikan bagi masyarakat setempat. Dengan cinta kasih dan kesungguhan hati, kalian melangkah masuk ke lahan itu dan benar-benar berupaya untuk mewujudkannya. Kita telah membangun sebuah sekolah yang kokoh. Semua orang bisa melihatnya.
Bodhisatwa sekalian, kalian telah menghabiskan banyak waktu di sana dan itu benar-benar sangat bernilai. Kehidupan kalian sungguh bernilai. Kalian telah memanfaatkan waktu di sana untuk membangun sebuah sekolah yang begitu indah. Saya percaya bahwa kalian yang berada di sana serta melihat bangunan itu terselesaikan dan terlihat makin indah dari hari ke hari pasti merasa sangat bahagia. Terlebih lagi, itu adalah sebuah tempat pendidikan yang akan bertahan untuk generasi demi generasi.
Memikirkannya saja sudah membuat saya bahagia, apalagi kalian yang berada di sana dan bisa menyaksikan langsung prosesnya hari demi hari. Saya percaya kalian pun sama seperti saya yang merasa sangat bahagia dan bersukacita. Sistem pelayanan medis juga dibangun di sana. Dengan adanya pendidikan dan pelayanan medis, fondasinya akan menjadi kuat.
Dalam setiap “pekerjaan”, harus ada orang yang membangun tekad agar semuanya bisa berhasil. Jika tidak ada yang bersedia bertekad, sebesar apa pun dana dan seluas apa pun lahan, tetap tidak akan terwujud. Saya berterima kasih kepada Bodhisatwa Singapura dan Malaysia yang telah mengerahkan kekuatan untuk kampung halaman Buddha.
Meski zaman kita sekarang sudah berjarak lebih dari 2.500 tahun dari zaman Buddha, kita tetap bisa mewujudkan semangat menyelamatkan dunia yang diajarkan oleh Buddha. Walaupun kita tidak bisa memiliki jalinan jodoh dan hati yang lapang seperti Buddha, dengan himpunan kekuatan banyak orang, kita bisa mewujudkan cita-cita Buddha. Kita bukan hanya mengobati batin manusia, melainkan juga mengobati fisik manusia.
Buddha datang ke dunia untuk mengobati batin orang-orang. Namun, jika hanya memiliki niat dan cinta kasih, tanpa dukungan medis, kita tetap tak bisa melakukan apa-apa. Jadi, selain mewujudkan tekad dan ikrar Buddha, kita juga perlu melengkapi fasilitas kesehatan. Selain itu, kita juga memiliki ikrar untuk mengembangkan pendidikan di sana, dari pendidikan dasar hingga pendidikan di bidang keperawatan dan kedokteran. Inilah yang kita harapkan.
Bodhisatwa sekalian, semua ini membutuhkan kalian. Kalian telah membangun tekad dan sudah mulai melangkah. Saya pun merasa memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyerukan kepada semua orang untuk bersatu hati dan bersumbangsih bersama. Saya berterima kasih atas cinta kasih dan kasih sayang kalian semua. Kalian telah memperpanjang jalinan kasih sayang dan memperluas cinta kasih agung. Saya merasa sangat bersyukur. Apa yang ingin saya lakukan benar-benar kalian jalankan dengan sepenuh hati. Kalian telah membawa saya ke Lumbini. Saya sangat berterima kasih.
Saya ingin bersumbangsih di Nepal, tetapi tidak bisa menjangkau Nepal untuk melakukannya sendiri. Namun, kalian bisa menggantikan saya untuk bersumbangsih. Kalian telah melakukannya dengan sangat baik. Kalian sungguh dipenuhi berkah karena dapat berpijak di sana serta membangun dan memperindah bangunan yang akan selamanya ada di kampung halaman Buddha. Terlebih lagi, bangunan ini berfungsi untuk memberikan pendidikan dari generasi ke generasi dan membina lebih banyak insan berbakat. Kita semua sangat dipenuhi berkah.
Hendaknya semuanya terus berbagi kekuatan cinta kasih dengan Bodhisatwa setempat dan mewariskan pendidikan cinta kasih pada mereka. Ajaklah mereka untuk turut menjaga proyek pendidikan ini. Saya berharap semuanya dapat meneruskan kekuatan cinta kasih ini kepada dunia pendidikan dan anak-anak. Saya benar-benar berterima kasih kepada semuanya. Hendaknya kalian terus mewariskan kekuatan cinta kasih. Terima kasih. Saya mendoakan kalian semua.
Bodhisatwa tidak takut untuk terjun ke tengah orang-orang yang menderita
Para dokter membangun batu karang pelindung dengan kemurahan hati
Proyek pendidikan membangun harapan
Membawa jalinan kasih sayang dan cinta kasih agung ke kampung halaman Buddha