“Suatu kali, saya hanya pergi sebentar untuk mengirim barang. Saat kembali, kira-kira baru 15 menit saja, ibu saya sudah tidak terlihat. Saya sangat terkejut. Sejak saat itu, saya tidak berani lagi meninggalkan beliau sendirian di rumah. Saya ingin lebih banyak menanami ladang berkah. Berhubung kondisi Ibu sekarang sudah tidak memungkinkan untuk bergerak leluasa, selama saya sebagai anak masih mampu melakukannya, saya akan berusaha membantu Ibu,” kata Zhang Zheng-yu, relawan Tzu Chi.

“Sepanjang perjalanan, dia menggendong dan memapah ibunya. Dia sangat berbakti. Dalam kegiatan Tzu Chi pun, selama ada waktu luang, dia pasti ikut berpartisipasi,” kata Li Zhi-feng, relawan Tzu Chi.

“Setiap kali datang untuk mengikuti kegiatan Tzu Chi, saya selalu merasa sangat bahagia,” Zhang Zheng-yu, relawan Tzu Chi.

Sutra Buddha mengajarkan kepada kita tentang bakti. Ajaran Buddha adalah wujud bakti dan kebajikan yang agung. Dari kehidupan ke kehidupan, hendaknya kita berbuat baik dan terus berbakti. Berbakti berarti membalas budi orang tua. Hendaknya kita bersyukur atas budi luhur Buddha, orang tua, guru, dan semua makhluk.

Antarmanusia hendaknya saling berterima kasih. Hal terpenting ialah bagaimana kita menjadi manusia yang baik dan memperlakukan satu sama lain. Menjadi manusia berarti harus menjadi orang yang baik karena inilah wujud rasa syukur kita kepada orang tua.

“Setiap orang memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Itu sangat adil. Tinggal bagaimana saya memanfaatkan waktu dengan baik. Orang tua saya telah memberikan tubuh ini kepada saya. Jika saya bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya, itulah bentuk balas budi kepada mereka. Oleh karena itu, saya merasa bahwa dengan tubuh ini, saya bisa melakukan banyak perbuatan baik,” kata Lai Xiao-mei, relawan Tzu Chi.

Orang tua telah memberikan tubuh ini kepada kita, maka kita harus membalas budi mereka. Dengan menjadi orang baik, itu sudah merupakan cara membalas budi kepada orang tua. Darah dan daging orang tualah yang membentuk tubuh kita. Jika kita menggunakan tubuh ini untuk berbuat baik di masyarakat, itu juga merupakan bentuk balas budi kepada orang tua.

Sesungguhnya, setiap orang mungkin pernah menjadi keluarga kita. Bisa jadi kalian semua pernah menjadi orang tua atau saudara saya di kehidupan lampau. Sangat mungkin demikian. Oleh karena itu, kita memiliki jalinan jodoh dan berkah untuk bisa bersama-sama bergabung di Tzu Chi.

Sering kali, ketika melihat saya, kalian mengucapkan terima kasih. Sesungguhnya, saya juga berterima kasih kepada kalian. Hanya saja, dalam kehidupan ini, saya terlahir dengan jalinan jodoh yang istimewa. Saya mengenal Buddha dan memulai Tzu Chi lebih dahulu daripada kalian sehingga kalian memanggil saya dengan panggilan “Master”.

Saya hanyalah menginspirasi kalian. Mungkin di masa lampau, justru kebajikan yang kalian lakukanlah yang menginspirasi saya sehingga di kehidupan ini, saya bisa mendirikan Tzu Chi. Jadi, saya berterima kasih kepada kalian dan kalian juga berterima kasih kepada saya. Kita semua saling berterima kasih.

Saat ini, kita saling memanggil “kakak”. Sebagai insan Tzu Chi, apa yang seharusnya kita lakukan? Sebagai bagian dari keluarga besar Tzu Chi, aturan apa yang harus kita jaga? Kita selalu mengatakan “kita”. Hendaknya kita menghargai kebersamaan dan jalinan jodoh ini. Apa yang kalian lihat sekarang ialah Tzu Chi membawa manfaat bagi kampung halaman Buddha.

Saya sering berkata bahwa ketika melihat para relawan Malaysia, kehidupan mereka seperti di surga. Mereka adalah insan Tzu Chi yang telah membangun tekad dan ikrar untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan. Saya sangat berharap ada yang bersedia bertekad pergi ke Nepal untuk membawa perubahan di sana. Ketika seruan itu terdengar hingga Singapura dan Malaysia, para relawan di sana pun membangun tekad dan ikrar untuk merawat orang-orang di Nepal.

Pada awalnya, ketika mereka pergi, meski tinggal di hotel, mereka tetap digigit tungau dan kutu loncat. Mereka memasang kelambu, tetapi di dalam kelambu pun masih ada nyamuk. Pada awal keberangkatan, mereka benar-benar menghadapi kesulitan. Hingga sekarang pun tidak bisa dikatakan mudah.

Saya sering mendengar bahwa saat musim panas, panasnya sampai tempat tidur pun terasa membakar tubuh. Benar-benar sangat panas. Singkat kata, mengapa mereka yang kehidupannya begitu berkecukupan hingga bisa membayar orang untuk membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah, justru mau pergi ke tempat seperti itu untuk membimbing orang lain membersihkan dan merapikan rumah? Sesungguhnya, di sana pun tidak ada lingkungan yang bisa dirapikan. Rumahnya memang seperti itu adanya.

Saudara sekalian, walau saya menceritakannya kepada kalian, kalian mungkin tetap sulit membayangkannya. Namun, saya harus memberi tahu kalian bahwa mereka benar-benar menderita. Kita harus tahu bahwa kehidupan di kampung halaman Buddha sangatlah sulit. Hendaknya kita yang berada di sini mau menghimpun tetes demi tetes kekuatan untuk bersumbangsih. Begitulah praktik 50 sen yang sering saya bicarakan.

Saat ini, jika kalian sehari bisa menabung 1 dolar NT, bukankah dalam sebulan menjadi 30 dolar NT? (Benar.) Jika menabung 3,3 dolar NT setiap hari, sebulan menjadi 100 dolar NT. Dengan 3,3 dolar NT, apa yang bisa kita beli di sini? Namun, di sana, jika setiap bulan kita mengumpulkannya bersama-sama, kekuatan itu bisa menjadi sangat besar, bahkan bisa menolong seluruh Nepal. Begitulah himpunan tetes demi tetes cinta kasih. Itulah sebabnya belakangan ini saya terus mengingatkan semuanya tentang praktik 50 sen. Nilainya memang kecil, tetapi justru dari situlah misi Tzu Chi terwujud.

Saudara sekalian, hargailah praktik 50 sen. Inilah tujuan saya melakukan perjalanan kali ini, yaitu menyerukan tentang praktik 50 sen. Saya ingin semuanya menyadari bahwa himpunan kekuatan dapat menyelamatkan banyak orang. Dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang menderita. Tanpa membeda-bedakan negara, hendaknya kita berhimpun untuk membawa bantuan lintas negara. Asalkan ada jalinan jodoh, kita bisa membawa bantuan; jika tidak ada jalinan jodoh, kita tidak dapat menjangkaunya.

Selama ada jalinan jodoh, tidak peduli ke negara mana pun, kita bisa membawa bantuan. Misalnya, jika kalian memiliki kerabat atau sahabat di negara mana pun, kenalkanlah Tzu Chi kepada mereka. Ajak mereka untuk turut menginspirasi para kerabat di sana agar Tzu Chi dapat berdiri di negara itu. Jika ada kantor perwakilan Tzu Chi di sana, akan ada jalinan jodoh untuk menolong banyak orang. Bukan karena suatu negara kaya, lalu tidak ada keluarga yang menderita di sana. Bahkan, di negara yang sangat kaya pun, pasti ada orang-orang yang menderita.

Jika kita bisa membangun kantor Tzu Chi di suatu negara, orang-orang dapat memahami bahwa Tzu Chi membantu mereka yang menderita, kurang mampu, atau lansia yang sebatang kara. Jika orang-orang di setiap negara memahami hal ini, kita akan memiliki jalinan jodoh untuk dapat menolong semua orang di dunia dan menjangkau tempat-tempat di mana masih ada orang-orang yang menderita.

Berpegang pada ajaran bajik dan berbakti pada orang tua
Menghargai jalinan jodoh, menciptakan berkah, dan membalas budi orang tua
Menghimpun tetes demi tetes kebajikan untuk menolong semua makhluk
Melindungi semua makhluk dengan hati Buddha dan tekad Guru