Di zaman sekarang, kita sangat beruntung dapat menggunakan beragam sumber daya alam dan mewujudkan banyak hal. Karena itulah, kini banyak orang yang bisa mendengar dan melihat saya, bahkan orang-orang di tempat yang jauh. Insan Tzu Chi dari 14 negara dan wilayah berada bersama kita sekarang untuk menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Inilah yang membuat saya bersyukur setiap hari.

Teknologi telah memberi kita kepraktisan dan membuat kita seakan-akan memiliki kekuatan batin. Suara kita pun bisa menjangkau tempat yang jauh. Pada era Buddha, saat membabarkan Dharma, Buddha juga menunjukkan kekuatan batin-Nya sehingga para Bodhisatwa dari segala penjuru muncul di hadapan-Nya untuk mendengar Dharma. Dahulu, saat saya membabarkan Sutra, isinya selalu dimulai dengan “demikianlah yang aku dengar”.

Pada permulaan Sutra juga dikatakan bahwa saat Buddha membabarkan Dharma, Bodhisatwa dari segala penjuru datang untuk mendengarkan Dharma. Bukankah kondisi sekarang pun demikian? Saya bukan Buddha. Saya hanya berpegang pada tujuan Buddha muncul di dunia ini pada lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Tujuan Buddha terjun ke tengah masyarakat ialah bersumbangsih bagi umat manusia. Beliau berikrar untuk mengajarkan praktik Bodhisatwa karena Bodhisatwa dapat menyebarkan ajaran Buddha di dunia. Saat bertemu kalian, bukankah saya selalu menyebut kalian “Bodhisatwa”? Terlebih para dokter, saya selalu menyebut mereka “Tabib Agung”.

Dokter merupakan salah satu profesi di dunia. Profesi ini sangatlah bernilai. Dokter yang melindungi dan menyelamatkan kehidupan merupakan profesi termulia di dunia. Karena itulah, saya menyebut mereka “Tabib Agung”. Buddha mengobati batin semua makhluk. Penyakit batin membutuhkan obat batin. Apakah obat batin itu? Obat yang dapat membimbing semua makhluk memperbaiki pandangan keliru, melenyapkan kegelapan batin, dan kembali ke arah yang benar.

Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Dengan menuju arah yang benar, barulah kita bisa mencapai kebuddhaan. Saya menyebut para dokter sebagai “Tabib Agung” karena mereka bagaikan Buddha yang mengobati semua makhluk. Bagi makhluk yang didera penyakit batin, Buddha memberikan pengobatan dengan Dharma.

Saya sangat bersyukur kepada empat badan misi kita. Pertama-tama, saya bersyukur pada diri sendiri. Dahulu, yang ada dalam pikiran saya hanyalah, “Apakah yang bisa saya lakukan bagi dunia ini?” Begitu jalinan jodoh matang, kita memulai misi amal. Tentu saja, misi amal hanyalah permulaan. Setelah menjalankan misi amal, kita pun melihat penderitaan akibat penyakit. Karena itu, kita memulai misi kesehatan. Setelah itu, kita baru mendapati bahwa kita membutuhkan insan berbakat. Karena itu, kita pun memulai misi pendidikan.

Setelah menjalankan misi amal, kesehatan, dan pendidikan, kita mendapati bahwa masih ada yang kurang. Karena itu, kita menjalankan misi budaya humanis. Lewat misi budaya humanis, orang-orang dapat melihat apa yang telah Tzu Chi lakukan dan bagaimana Tzu Chi bersumbangsih bagi dunia. Di mana ada penderitaan, di sana ada kebajikan. Orang yang bajik membuka pintu hati untuk menjangkau orang yang menderita.

Saya bersyukur kepada seluruh insan Tzu Chi yang telah mendukung misi amal kita. Semua orang menghimpun kekuatan. Lewat misi amal, kita membantu orang kurang mampu. Setelah membantu mereka, kita mendapati bahwa ada banyak orang yang jatuh sakit karena kekurangan. Saat orang kurang mampu jatuh sakit, mereka tidak mampu berobat sehingga penyakit mereka menjadi makin parah. Karena itu, selain memberikan pelayanan medis gratis, kita juga mendirikan rumah sakit. Setelah mendirikan rumah sakit, kita menyadari bahwa kita perlu membina insan berbakat. Karena itulah, kita pun segera memulai misi pendidikan.

Setelah ada misi amal, kesehatan, dan pendidikan, kita merasa bahwa masih ada yang kurang, yaitu misi budaya humanis untuk menyiarkan. Manusialah yang dapat menyebarkan Dharma, bukan sebaliknya. Jadi, kita membutuhkan orang untuk menyiarkan kisah tentang kebajikan, penderitaan, dan cinta kasih di dunia. Kita harus menyebarkan berbagai kisah untuk menginspirasi orang-orang. Selain menyiarkan kisah untuk menginspirasi orang-orang, kita juga memproduksi drama. Untuk itu, saya sangat bersyukur.

Ada sebagian kaum lansia yang jarang keluar, tetapi mereka sangat suka menonton opera Taiwan. Opera Taiwan mengandung makna yang mendalam karena dapat membahas sejarah, menyebarkan kebajikan, dan menginspirasi masyarakat. Semua ini sangatlah bermanfaat. Karena itu, setiap orang dari empat badan misi kita hendaknya mengerahkan segenap hati dan tenaga. Bukan hanya orang kaya yang bisa berdana. Setiap orang memiliki jalinan jodoh dan kesempatan untuk bersumbangsih.

Pahala dari berdana sangatlah besar. Saat hendak berdana, kita selalu sangat sukacita. Rasa sukacita ini merupakan pahala. Meski diri sendiri tidak bisa berdana, saat melihat orang lain berdana, kita hendaknya turut merasa sukacita. Bersukacita mendatangkan pahala. Hari ini, bukankah kita juga bersukacita? Para staf dari empat badan misi berhimpun dan berdana dengan sukacita. Dari segala jenis dana, berdana Dharma adalah yang terbaik. Yang harus kita utamakan ialah berdana dengan Dharma.

Bodhisatwa sekalian, setiap orang bisa berdana dengan Dharma. Bertutur kata baik juga termasuk berdana. Saya bersyukur kepada kalian yang senantiasa bertutur kata baik dan berbuat baik. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga kalian dapat membina berkah dan kebijaksanaan. Terima kasih.

Menunjukkan kekuatan batin dengan teknologi zaman sekarang
Memberikan pengobatan sesuai penyakit untuk menyembuhkan jiwa dan raga
Empat Misi Tzu Chi menghimpun kekuatan banyak orang
Membuka pintu amal dengan berdana dan menyebarkan Dharma