“Saat datang ke sini, saya merasa seperti memiliki keluarga. Tzu Chi terus mendampingi saya sepanjang perjalanan hidup ini dan banyak mengubah kepribadian saya. Kini, saya menjadi lebih terbuka, lebih ceria, dan bisa berinteraksi dengan orang lain,” ujar Wang Kai-xiu, penerima bantuan Tzu Chi.

“Sekarang, saya masih termasuk orang yang menerima bantuan. Namun, saya berharap suatu hari nanti, saya memiliki kemampuan untuk memberi, tidak harus selalu berupa uang, mungkin juga berupa tenaga. Saya ingin menjadi orang yang bisa membantu orang lain dengan cinta kasih dan rasa syukur,” kata Zhu Ze-hong, penerima bantuan Tzu Chi.

Hal terpenting dalam kehidupan ini ialah menggenggam jalinan jodoh. Menjalin jodoh dengan semua orang di dunia adalah hal yang sangat penting. Jika di kehidupan lampau saya tidak menjalin jodoh baik dengan semuanya, bagaimana mungkin niat itu muncul 60 tahun yang lalu?

Saat itu, 30 ibu rumah tangga berhimpun dan menyisihkan 50 sen setiap harinya. Menyisihkan 50 sen adalah hal yang sangat sederhana. Orang yang membeli sayur berkata, “Tolong kurangi 50 sen karena hari ini saya mau menyisihkan 50 sen.” Pedagang pun bertanya, “Untuk apa?” Pembeli menjawab, “Master berkata bahwa kita harus menolong orang lain.” Pedagang sayur pun berkata, “Kalau 50 sen bisa menolong orang, saya juga mau.”

Kalian harus ingat bahwa pada masa itu, 50 sen bukanlah jumlah yang kecil. Harga 7 kilogram beras saja 24 dolar NT. Kita percaya bahwa tetes demi tetes kekuatan yang dihimpun akan menjadi besar. Pada masa itu, semuanya memberi dengan ketulusan hati dan kekuatan kebajikan. Semuanya menyisihkan 50 sen demi menolong orang lain. Itulah yang disebut dengan kebajikan.

“Tetes demi tetes kebajikan yang terhimpun bisa menjadi banyak. Seperti celengan bambu itu, ketika kita menaruh lebih banyak niat baik ke dalamnya, ia akan berkembang menjadi nilai yang lebih besar,” ujar Wei Wei, seorang warga.

“Jika setiap hari Anda melakukan hal ini, kondisi batin Anda pun akan berubah karena di dalam hati berpikir, ‘Meski uang receh itu kecil, ternyata bisa membantu banyak orang.’ Inilah makna dari tidak melupakan tekad awal semangat celengan bambu,” kata Zhong Guo-song, seorang engusaha.

Saat ini, praktik menyisihkan 50 sen harus disebarluaskan ke seluruh dunia. Saya pun ingin mengingatkan semuanya untuk mengembangkan jiwa kebijaksanaan. Satu niat saya yang muncul 60 tahun yang lalu terus berjalan hingga hari ini. Tzu Chi memiliki misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis. Semua dimulai dari misi amal dengan harapan orang-orang bisa makan dengan cukup, lalu berlanjut ke pelayanan medis lewat baksos kesehatan.

Saya melihat orang-orang yang telah mendapatkan obat dari dokter, sudah bisa berjalan sendiri dengan tegap pada baksos kesehatan berikutnya. Dari situlah saya merasakan bahwa pelayanan medis benar-benar bisa menyelamatkan orang. Di dalam hati pun tumbuh niat untuk bukan hanya mengadakan baksos kesehatan, melainkan membangun rumah sakit. Oleh karena itu, setelah menjalankan misi amal, kita pun membangun rumah sakit.

Setelah rumah sakit berdiri, saya merasa pendidikan juga sangat dibutuhkan. Begitulah misi pendidikan akhirnya dimulai. Saya pun berkata kepada semuanya bahwa setelah ada rumah sakit, kita harus membangun pendidikan dimulai dari akademi keperawatan. Kala itu, setelah RS Tzu Chi Hualien berdiri, mencari perawat bukanlah hal yang mudah. Jadi, saya ingin segera membina tenaga perawat dengan membangun akademi keperawatan.

Hari pertama akademi keperawatan dimulai, kita sudah ada 107 mahasiswa. Bangunannya juga dibuat sangat indah sehingga orang yang melihat pun akan merasakan indahnya akademi keperawatan kita, ditambah dengan pemandangan Hualien yang sangat jernih. Ketika melihat kondisi yang seperti itu, banyak orang tua yang ingin anaknya belajar di sini. Kita memulai semuanya dari akademi keperawatan, sekolah tinggi kedokteran, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga kini ada program doktor. Inilah misi pendidikan Tzu Chi.

Empat Misi Tzu Chi telah berjalan begitu lama. Tahun ini, saya ingin semua orang lebih memahami sejarahnya. Saya juga berharap kalian rajin membaca majalah Tzu Chi. Tzu Chi telah mengeluarkan banyak publikasi. Hendaknya kalian membacanya. Sebagai insan Tzu Chi, kita harus memahami sejarah Tzu Chi. Bagaimana Tzu Chi berdiri? Bagaimana sulitnya menjalankan misi Tzu Chi? Semuanya harus memahami ini dengan jelas.

Kisah perjalanan yang penuh cinta kasih ini harus kita wariskan kepada anak cucu agar mereka tahu mengapa orang tua dan kakek-nenek mereka menjalankan Tzu Chi. Inilah yang disebut dengan warisan keluarga. Saya telah menyiapkan buku “Warisan Keluarga”. Sejarah awal Tzu Chi dan perjalanan kalian di Tzu Chi semuanya terhimpun dalam buku ini.

Hari ini, saya ingin membagikannya kepada kalian. Namun, dari mana semua materi ini berasal? Bagaimana kita bisa menuliskan sejarah setiap keluarga satu per satu? Tentu tidak mungkin. Oleh karena itu, saya meminta kalian semua untuk menghargai waktu yang ada saat ini. Kita telah mendirikan Tzu Chi dan Tzu Chi telah mencatat sejarah yang sangat berharga bagi abad ini. Tanpa kalian, ini semua tidak mungkin terjadi.

Berkat kalian, kekuatan Tzu Chi bisa meluas hingga ke seluruh dunia. Kalian harus ada di dalam catatan sejarah Tzu Chi. Hendaknya semuanya menuliskan kisah kehidupan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa menyusunnya menjadi kitab sejarah Tzu Chi. Sejarah Tzu Chi dimulai di era ini dengan praktik menyisihkan 50 sen. Dalam 60 tahun, kita telah mewujudkan Empat Misi Tzu Chi kita telah mewujudkan Empat Misi Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma serta berkembang ke dunia internasional. Kebajikan dan cinta kasih Taiwan telah mengalir ke seluruh dunia.

Kita juga telah menyebarkan ajaran Buddha dan mewujudkan cinta kasih agung. Semua ini adalah hasil kerja kita bersama. Tzu Chi tidak bisa berjalan tanpa kalian dan saya. Tanpa saya, tidak akan ada Tzu Chi. Namun, jika saya sendiri, bagaimana saya menjalankan Tzu Chi? Saya membutuhkan kalian semua. Tzu Chi tidak bisa ada tanpa Anda, dia, dan saya.

Saudara sekalian, waktu berlalu begitu cepat. Jika kita menginventarisasi kehidupan, banyak hal yang telah kita lakukan. Ajaran Buddha berkata bahwa ada eksistensi ajaib di balik kekosongan. Inilah ajaran Buddha. Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang harus melakukan perbuatan baik.

Memegang teguh tekad awal untuk membina kebajikan
Bersumbangsih dengan tulus dan menjalin jodoh baik
Meneruskan jiwa kebijaksanaan dengan berbagai cara
Mewariskan Tzu Chi di dalam keluarga dan menyebarkan Dharma