Bodhisatwa sekalian, kalian yang berada di Changhua terus-menerus menciptakan berkah bagi dunia, melayani dengan tekun dan bersemangat, serta terus membina kebijaksanaan. Melihat kalian datang, semuanya mengenakan seragam dengan rapi. Saat duduk dan berbincang, saya mendengar bagaimana kalian saling menjaga di komunitas. Setiap orang di komunitas sangat bersungguh hati sehingga dunia ini menjadi harmonis dan penuh kebahagiaan.
Dalam suasana ini, semua orang dapat bersatu hati untuk membentangkan jalan berkah dan kebijaksanaan di dunia dengan kekuatan cinta kasih. Saudara sekalian, berkah itu harus diciptakan sendiri. Berkah bukan diciptakan dengan saling mendoakan lewat kata-kata saja, melainkan dengan tindakan nyata. Saat menciptakan berkah, diri sendiri dan orang lain akan merasa sukacita. Jadi, berkah adalah kebahagiaan yang diperoleh ketika bersumbangsih dan kebijaksanaan adalah kedamaian batin yang diperoleh dari sikap penuh pengertian.
Kebahagiaan dan kedamaian batin, itulah berkah dan kebijaksanaan kita. Saudara sekalian, apakah sulit melakukan hal ini? (Tidak.) Ya, tidak sulit. Apakah kalian merasa bahagia dan damai? (Ya.) Benar, memang harus demikian. Kita harus bersumbangsih hingga batin kita merasa tenang dan damai. Ketika tidak ada yang mengganjal di hati, itulah ketenangan sejati. Ketika semua orang saling mengasihi, itulah kedamaian sejati.
Di lantai atas, saya melihat biji-biji saga yang disusun hingga membentuk sebuah logo yang sangat indah. Ada pula tampilan semut kecil memanjat Gunung Sumeru yang sangat bermakna. Apa yang ditampilkan di lantai atas, setiap detailnya menunjukkan keterampilan relawan kita. Saat memegangnya, saya merasa sangat senang. Setelah kembali, saya akan menyimpannya dengan baik. Kalian telah menguras pikiran untuk membuatnya. Saya sangat berterima kasih. Inilah yang disebut dengan cinta kasih.
Hal terpenting ialah kalian semua mengasihi saya. Kalian sering berkata, “Master, saya mengasihi Anda.” Ini membuat saya merasa bahwa kehidupan saya sangatlah bernilai karena dapat bersumbangsih hingga dikasihi orang-orang. Saya benar-benar merasa bersyukur. Masih ada orang yang mengasihi kita di usia 80 hingga 90 tahun tidaklah mudah. Saya ingin mengingatkan semuanya untuk menggenggam jalinan jodoh dengan baik. Saya sangat berharap semuanya dapat mewariskan silsilah Dharma Tzu Chi dari generasi ke generasi.
Saya sering berkata bahwa waktu saya untuk keluar tidak banyak lagi. Karena itu, kalian hendaknya berkata, “Master, janganlah khawatir. Dari kehidupan ke kehidupan, anak cucu kami akan menjadikan kebajikan sebagai warisan keluarga. Menantu perempuan, anak perempuan, anak laki-laki, dan menantu laki-laki saya, semuanya akan melanjutkan misi Tzu Chi.” Dengan demikian, setiap orang akan mewariskan cinta kasih di dalam keluarganya. Terima kasih atas cinta kasih kalian. Kekuatan cinta kasih ini sungguh tak terbayangkan.
Lihatlah, kalian telah menyerap inti sari Dharma ke dalam hati. Dengan satu suara, begitu banyak orang melantunkan Himne Inti Sari Dharma Sutra Makna Tanpa Batas. Saya percaya bahwa Dharma telah meresap ke dalam hati dan pikiran kalian. Jangan pernah lupakan tekad dan ikrar yang kalian bangun hari ini.
Saya berharap semuanya dapat memanfaatkan setiap menit, detik, dan kekuatan untuk terus menanam benih kebajikan. Inilah yang disebut berkah. Yang ada di pikiran kita ialah bersumbangsih. Bersumbangsih berarti menabur benih kebajikan. Setiap butir benih yang bertumbuh akan kembali menghasilkan benih yang berlimpah.
Saudara sekalian, “kebajikan tidak akan sia-sia” memiliki makna bahwa setiap butir benih yang kita tabur, pada akhirnya akan kembali menjadi berkah bagi diri kita sendiri. Saya sangat bersyukur karena relawan di Changhua begitu kaya akan nilai budaya humanis. Bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Selama kita memiliki semangat seperti semut yang mendaki Gunung Sumeru, meski harus mendaki lama, kita pasti akan mencapai puncaknya. Jangan takut pada ketinggiannya. Selama kita memiliki ketekunan seperti semut, kita pasti akan mencapainya. Harapan saya dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, dan hari ke hari tetaplah sama, yaitu semoga dunia ini damai dan tenteram. Saya terutama berdoa agar hati setiap orang harmonis dan dapat bekerja sama untuk bersumbangsih bagi dunia dengan cinta kasih.
Dalam hidup ini, apa yang kita inginkan? Kita menginginkan berkah dan kebijaksanaan. Berkah dan kebijaksanaan telah kita bawa sejak kehidupan lampau. Di kehidupan sekarang, kita sangat beruntung karena jalinan jodoh telah matang sehingga kita dapat menanam sebab yang lebih besar dan menghimpun jalinan jodoh baik yang lebih luas.
Saya berharap di kehidupan saat ini, kita senantiasa mendoakan kedamaian dunia, keharmonisan masyarakat, dan kerukunan antarmanusia. Tentu saja kita mampu melakukannya. Kita juga harus berdoa semoga semua orang mampu melakukannya. Dengan demikian, berkah itu akan membentuk energi keharmonisan. Semoga setiap orang dapat bertekad seperti ini. Jika demikian, bukankah dunia ini menjadi tanah suci? Apakah kalian bisa melakukannya? (Bisa.) Pasti bisa. Kita harus yakin akan hal ini.
Dalam organisasi kita, asalkan kita senantiasa saling mengingatkan dan saling menyemangati, maka tekad kita akan secara alami meluas ke seluruh dunia dan selamanya membuat dunia damai dan bebas bencana. Saya sangat berterima kasih.
Tekun, bersemangat, dan bersukacita di jalan berkah dan kebijaksanaan
Mewariskan pelita hati dengan jalinan kasih sayang dan cinta kasih agung
Menyerap inti sari Dharma dan membangun ikrar agung
Mewujudkan tanah suci yang damai dan harmonis di dunia