“Badan Misi Pendidikan Tzu Chi telah membawa kehangatan bagi warga di Distrik Fang. Mereka membagikan selimut dan kebutuhan sehari-hari kepada para warga. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas cinta kasih dan welas asih Tzu Chi,” kata Lt. Nopparyt Suphakitgosol, Kepala Distrik Fang.

“Saya berterima kasih kepada Tzu Chi karena telah memberikan selimut di musim dingin ini,” kata Warga.

“Hari ini, mereka datang untuk mengambil selimut dan jaket. Saya melihat wajah mereka tampak sangat bahagia. Kami membantu mereka membawa barang. Saya juga merasa sangat bahagia,” kata Techit Saejang, Siswa Sekolah Tzu Chi Chiang Mai.

“Nenek itu berkata bahwa jika tidak ada bantuan Tzu Chi, dia tidak mungkin memiliki makanan dan selimut yang hangat di musim dingin ini. Saya merasa sangat tersentuh. Hal ini membuat saya menyadari bahwa ketika orang tua sudah lanjut usia, kita tidak boleh meninggalkan mereka untuk berjuang sendiri. Kita harus merawat mereka,” kata Yew Ai Ping, Anggota Tzu Shao, Sekolah Internasional Tzu Chi Kuala Lumpur.

Masyarakat dan dunia sangat membutuhkan pendidikan yang baik. Tzu Chi memiliki jalinan jodoh untuk menjalankan misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis. Kita menjalankan empat misi secara bersamaan. Dalam pendidikan pun harus ada unsur misi amal agar kekuatan cinta kasih dapat terus dikerahkan.

Kita berharap insan berbakat yang kita didik dapat menjadi orang baik di masyarakat. Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Ini tidaklah mudah. Pendidikan Tzu Chi dimulai dari taman kanak-kanak hingga universitas, bahkan sampai tingkat magister dan doktor. Kita memiliki sistem pendidikan yang komprehensif. Ini semua dapat terwujud berkat dukungan insan Tzu Chi dari waktu ke waktu.

Belakangan ini, saya sering membahas tentang praktik donasi 50 sen. Tzu Chi bermula dari praktik donasi 50 sen dan kini telah memasuki usia 60 tahun. Tanpa praktik donasi 50 sen dahulu, tidak akan ada Tzu Chi yang sekarang hadir di tingkat internasional. Empat Misi Tzu Chi selalu berjalan beriringan.

Saat ini, di Taiwan, pendidikan menempati posisi yang sangat penting. Kita terus mendorong Empat Misi Tzu Chi di seluruh dunia. Ketika menghadapi siswa dari keluarga kurang mampu, kita pasti akan memberikan bantuan. Jika anak-anak bersedia datang ke Taiwan, kita akan membantu mereka untuk mendapatkan pendidikan di Taiwan. Inilah yang kita harapkan bagi siswa di seluruh dunia tanpa membeda-bedakan negara. Ini semua karena kita mengasihi umat manusia.

Dunia membutuhkan kita untuk membina insan berbakat. Jadi, fokus kita ialah pendidikan yang murni. Lembaga pendidikan kita sangatlah murni dan sederhana, juga berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Saya berharap bahwa tim misi pendidikan sering kembali ke Griya Jing Si. Dengan sering kembali, barulah mereka bisa memahami arah pendidikan kita. Kita menjalankan misi pendidikan dengan sungguh-sungguh, tulus, fokus, serta segenap hati dan tenaga.

Saya selalu berharap para staf pendidik dapat sering kembali ke sini untuk memahami semangat dan arah Tzu Chi. Saya berharap semuanya bisa datang untuk mengenal Tzu Chi lebih dalam dan memahami filosofi kehidupan di Griya Jing Si. Semua yang ada di sini hidup secara mandiri. Ketika orang-orang datang ke Griya Jing Si, tujuannya ialah untuk belajar cara kerja di Griya dan meneladan semangat Tzu Chi.

Bagaimana Griya Jing Si dapat mandiri? Dengan semangat apa kita terjun ke tengah masyarakat? Mengapa ada misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis? Apa pun yang kita lakukan harus benar dan tidak boleh menyimpang. Menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Jadi, hendaknya kita bekerja dengan benar dan tulus.

Setiap langkah kita harus penuh dengan kejujuran. Semua yang kita lakukan harus merupakan dedikasi yang sungguh-sungguh. Inilah ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Keyakinan ini bukan berarti harus memeluk agama Buddha. Tidak demikian. Saya mendukung semua agama yang benar. Ada seorang uskup agung dari Malaysia yang membawa sekitar 10 hingga 20 umatnya datang untuk memahami Tzu Chi dan melihat bagaimana Tzu Chi menjalankan kegiatan.

“Misi kunjungan kami kali ini ialah memahami kegiatan yang dilakukan oleh Tzu Chi. Kami tidak hanya datang untuk belajar dari Tzu Chi, melainkan juga ingin berbagi pengalaman kami dengan Tzu Chi,” kata Julian Leow Beng Kim, Uskup Agung Kuala Lumpur.

“Saya berharap ketika kembali ke Hong Kong, saya dapat menjalin lebih banyak kerja sama dengan Tzu Chi Hong Kong. Setelah datang ke sini, barulah saya tahu bahwa pintu Tzu Chi terbuka lebar untuk menyambut orang dari berbagai latar belakang dan agama untuk mempraktikkan kebajikan bersama,” kata Bill Lay, Supervisor Senior Caritas Hong Kong.

Hendaklah kita berinteraksi secara harmonis dengan umat dari berbagai agama yang telah memberikan dukungan dari luar dan dalam. Bahkan, ada di antara mereka yang tinggal di sini selama beberapa hari untuk memahami Tzu Chi dan turut melakukan pekerjaan kita.

“Kami datang ke sini untuk bertukar pengalaman dan belajar tentang apa yang dilakukan oleh Tzu Chi. Kami sangat menghargai pengalaman yang kami peroleh. Kami berharap setelah kembali ke Malaysia, kami dapat melakukan hal-hal serupa,” kata Ronald Hor, Umat Katolik Malaysia.

Inilah yang disebut ketulusan. Dalam hubungan antaragama, kita saling belajar kelebihan masing-masing dan kekurangan yang perlu diperbaiki harus segera diperbaiki. Inilah yang disebut dengan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan.

Selama 60 tahun ini, kita telah menapaki jalan ini dengan mantap. Sejak awal berdirinya Tzu Chi hingga sekarang, kita telah memasuki tahun ke-60. Pada bulan tiga Imlek nanti, Tzu Chi akan genap berusia 60 tahun dan kita akan melangkah menuju tahun ke-61. Hendaknya kita meneruskan Tzu Chi dalam jangka panjang. Dalam waktu 60 tahun, kita memperoleh pengakuan dari orang-orang di seluruh dunia. Dengan hati yang tenang, hendaknya kita menstabilkan Tzu Chi dan mewariskannya dari generasi ke generasi.

Kita semua memiliki tanggung jawab. Kita telah mendapat dukungan dari berbagai umat agama dan pengakuan di dunia internasional. Saat ini, usia saya sudah lanjut. Hendaknya kita meneguhkan arah dan semangat Tzu Chi. Kita harus menyusun sejarah sejak masa awal dan segera meminta orang untuk menuliskannya. Saya pun sedang menelusuri kembali sejarah Tzu Chi sejak praktik donasi 50 sen. Semangat kala itu sangatlah berharga.

Belakangan ini, saya terus membacanya dan merasa bahwa kita harus menulisnya kembali dari awal. Pada masa itu, meski 30 ibu rumah tangga itu tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tetapi ketulusan mereka sungguh patut dipuji. Mereka adalah sekelompok Bodhisatwa yang mulai menapaki jalan Tzu Chi. Jasa mereka sungguh tidak ternilai.

Menjalankan Empat Misi Tzu Chi di Jalan Bodhisatwa
Mengasihi dunia dengan membina insan berbakat
Menelusuri akar Tzu Chi dan meneguhkan jalan Tzu Chi
Mempraktikkan kebajikan bersama dan mewariskannya