“Hari ini, saya ingin berbagi tentang satu kasus pasien yang sangat langka. Seorang pria berusia 66 tahun dari Chiayi datang kepada kami. Sebelumnya, ia menjalani operasi wasir di rumah sakit lain. Setelah operasi tersebut, ia mulai mengalami kesulitan buang air besar disertai rasa nyeri. Masalah ini pun sangat mengganggunya. Setiap kali makan, ia selalu merasa dilema antara makan atau tidak karena setelah makan, ia pasti mengalami kesulitan buang air besar,” kata Xiao Guang-hong, Kepala Departemen Bedah Kolorektal.
“Kondisi ini membuatnya mengalami depresi hingga harus rutin berobat ke psikiater. Berat badannya pun menurun dan ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Kemudian, ia berkonsultasi dengan seorang dokter di Chiayi yang mengetahui bahwa saya menangani kasus seperti ini sehingga ia dirujuk ke sini. Hari Selasa malam, saat bertemu dengannya, saya ingat bahwa dia mengatakan sudah 8 hari tidak buang air besar,” ungkap Xiao Guang-hong.
“Kami melakukan pemeriksaan rontgen dan terlihat seluruh ususnya sudah membengkak. Saat saya memeriksa bagian anusnya, ternyata sangat sempit. Hal ini disebabkan karena ia sudah menjalani beberapa kali operasi sehingga seluruh area anus dipenuhi jaringan parut yang sangat parah. Saat itu juga saya memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit dan keesokan harinya, kami menjadwalkan operasi,” lanjut Xiao Guang-hong.
Xiao Guang-hong melanjutkan “Operasi seperti ini tergolong sangat sulit karena seluruh jaringan anus sudah mengalami fibrosis dan kulit yang tersedia tidak mencukupi. Jadi, kami melakukan operasi rekonstruksi dengan teknik flap kulit yang disesuaikan secara khusus. Pada pasien ini, kami harus mengambil kulit dari kedua sisi bokong, lalu memindahkannya untuk menambal sisi lainnya. Dengan cara ini, kulit yang cukup dapat tersedia sehingga anus bisa kembali melebar. Bahkan, satu sisi saja tidak cukup, sehingga kami harus melakukan flap dari kedua sisi agar dapat berfungsi dengan baik.”
“Pascaoperasi, pasien tersebut merasa sangat senang. Kondisi depresinya juga membaik. Selain metode operasi yang kami lakukan, kami juga berhasil merekonstruksi fungsi organ tersebut sehingga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Ini juga menjadi salah satu ciri khas tindakan medis di RS Tzu Chi Taipei,” pungkas Xiao Guang-hong.
Dalam Empat Misi Tzu Chi, yang paling saya perhatikan ialah misi kesehatan karena berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Dalam kehidupan, manusia mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ada penyakit yang sebenarnya sudah didiagnosis dengan tepat, tetapi entah mengapa tidak kunjung sembuh. Dalam ajaran Buddha, ini disebut sebagai kekuatan karma. Jika karma belum terselesaikan, penyakit pun tidak akan hilang.
Setiap dokter tentu berusaha untuk meringankan penderitaan pasien dan menyelamatkan nyawa mereka. Semua ini adalah perbuatan baik. Namun, terkadang tetap ada rasa tidak berdaya. Sebagai pasien pun, akan merasa lebih tidak berdaya. Sejak lahir, kita tidak bisa menghindari sakit maupun kematian. Di dunia ini, tidak ada penyakit yang tidak berujung pada kematian. Inilah ketidakberdayaan kita. Meski demikian, kita tetap membutuhkan dokter dan perawat dalam kehidupan ini.
Dokter mengobati, sementara perawat mendampingi pasien. Ini adalah pekerjaan yang sangat berat. Meski dunia medis saat ini sudah sangat maju, tetap tidak ada obat yang bisa membuat manusia tidak meninggal dunia. Sungguh tidak berdaya. Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk meringankan penderitaan pasien atau setidaknya memberikan dukungan batin agar mereka merasa memiliki sandaran. Itulah yang bisa kita lakukan.
Setiap pagi, ketika mendengar kalian berbagi tentang kasus-kasus medis, saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh. Bahkan, saya merasa tersentuh terhadap diri sendiri karena keputusan untuk menjadikan misi kesehatan sebagai salah satu dari Empat Misi Tzu Chi. Syukurlah, kita memiliki misi kesehatan ini. Saat ini, saya pun ingin memuji diri sendiri. Saya merasa bahwa hidup ini sangat bernilai.
Saya sangat berterima kasih kepada para dokter dan perawat. Semuanya sungguh-sungguh bekerja dengan kesatuan dan keharmonisan. Sebagai seorang dokter, hal yang dihadapi setiap hari ialah kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Kasus-kasus yang dihadapi pun sangat banyak. Untuk bisa menjalani semua itu dengan harapan, hati harus tetap dijaga agar selalu bahagia.
Meski proses belajar menjadi tenaga medis sangatlah sulit, ketika sudah menjadi dokter, kalian harus selalu mendampingi pasien. Saat pasien dalam kondisi kritis, kalian harus terus berada di sisi mereka. Meski terkadang dokter pun tidak berdaya, tetap harus terus merawat dan menjaga pasien. Mungkin pasien terlihat tertidur dengan tenang, tetapi di sampingnya masih ada tenaga medis yang terus memperhatikannya. Jadi, dokter dan perawat benar-benar bersumbangsih tanpa pamrih.
Ketika melihat kondisi pasien mulai membaik, kita pun harus berterima kasih kepada pasien tersebut karena telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Memang benar, pasien juga harus berupaya. Jika pasien tidak berusaha, meski penyakit fisiknya hanya 70 persen, justru penyakit batinnya bisa menjadi 100 persen.
Jadi, untuk mengobati penyakit, kita harus mengobati manusianya secara keseluruhan. Yang paling penting dalam mengobati seseorang ialah menyembuhkan hatinya. Dalam hal ini, dokter dan pasien harus memiliki hubungan yang baik dan harus terjalin rasa percaya. Pasien akan merasa, “Jika dokter yang merawat saya, saya pasti akan baik-baik saja. Jika saya minum obat yang diberikan, saya pasti akan membaik.” Inilah bentuk kepercayaan seorang pasien kepada dokter.
Ketika pasien memiliki tempat bergantung, ia akan memiliki kekuatan untuk bangkit kembali. Jadi, seorang dokter tidak hanya mengobati penyakit fisik pasien, tetapi yang lebih penting ialah memberikan sandaran batin bagi mereka. Untuk mengobati pasien, hendaknya para dokter juga menjaga hati mereka. Dengan demikian, hasil pengobatan pun akan menjadi jauh lebih baik.
“Hari ini, setelah mendengar laporan dari tim bedah kardiovaskular dan bedah kolorektal, saya merasa bahwa inilah arah yang selama ini terus diupayakan oleh misi kesehatan Tzu Chi. Master mengajarkan kita untuk melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih. Jadi, kami selalu menempatkan pasien sebagai pusat utama,” kata Chin-Lon Lin, MD, Direktur Misi Kesehatan Tzu Chi.
“Moto kami ialah memberikan kebahagiaan, keceriaan, dan kesejahteraan bagi pasien. Segala masalah, kesulitan, dan tanggung jawab yang muncul akan ditanggung bersama oleh tim medis. Seperti kasus yang ditangani oleh dr. Yang ini, dr. Chen juga sangat memahami bahwa sebenarnya bukan berarti rumah sakit lain tidak mampu melakukannya. Semuanya mampu. Namun, dalam dunia medis, ada 2 aspek utama. Yang pertama ialah profesionalisme dan dalam hal ini, semua sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi. Yang kedua ialah budaya humanis,” lanjut Chin-Lon Lin, MD.
“Pada akhirnya, yang membedakan ialah apakah seseorang bersedia atau tidak untuk memikul tanggung jawab tersebut dan melakukan yang terbaik bagi pasien. Inilah perbedaan utamanya. Seperti yang disampaikan kepala rumah sakit bahwa selama kita memiliki niat baik dan mengutamakan kepentingan pasien, hasil akhirnya pun akan berbeda,” pungkas Chin-Lon Lin, MD.
Saat ini, teknologi di dunia kedokteran sudah sangat maju. Banyak teknologi yang dapat membantu dan memang perkembangan teknologi medis sekarang sangat bermanfaat. Namun, meski ada teknologi, seorang dokter tetap harus menjaga pasien dengan hati yang tulus dan bersedia bersumbangsih dengan cinta kasih. Inilah nilai sejati seorang dokter.
Saya sering mengatakan bahwa setiap orang harus menginventarisasi nilai kehidupan masing-masing. Di tengah masyarakat, dokter memiliki nilai kehidupan paling tinggi. Dokter sendiri harus memiliki tubuh yang sehat. Hanya dengan kondisi yang sehat, barulah seorang dokter dapat menjaga pasiennya dengan sepenuh hati. Jika dokter sehat, pasien pun akan sehat.
Jadi, fisik dan batin harus sama-sama sehat. Inilah bagian dari penderitaan dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang sakit, ia membutuhkan obat dan dokter untuk merawatnya. Hanya dengan kesatuan dan keharmonisan, barulah tim medis dapat memberikan perawatan terbaik.
Penyakit karena usia tua penuh dengan ketidakberdayaan
Meringankan derita yang mendalam dengan welas asih dan keahlian
Kepercayaan memberikan sandaran dan kekuatan
Kesatuan dan keharmonisan tim medis menenangkan semua makhluk