“Pusat perawatan di Guopi didirikan pada tahun 2017 dan kini telah memasuki tahun ke-9. Warga lansia di pusat perawatan bagaikan saudara. Mereka saling memperhatikan dan menjaga. Jadi, kami bagaikan satu keluarga besar. Dalam keluarga besar seperti ini, terdapat banyak kisah yang penuh kehangatan. Di antara mereka, ada Ayah Wen-xiong beserta istrinya, Ibu Ying-e,” kata Qiu Qin-zhen, relawan Tzu Chi.
“Saat pusat perawatan didirikan pada tahun 2017, mereka adalah gelombang pertama yang bergabung. Mereka sangat jarang absen. Suatu hari, mereka tidak datang. Ternyata, hari itu, Ibu Ying-e meninggal dunia karena serangan jantung. Tim kami dan seorang anggota grup mereka segera mencurahkan perhatian kepada Ayah Wen-xiong,” lanjut Qiu Qin-zhen.
“Anggota grup tersebut menepuk pundak Ayah Wen-xiong dan berkata, ‘Anda harus segera kembali mengikuti kelas. Kami akan mendampingimu.’ Seminggu setelah upacara pelepasan Ibu Ying-e, Ayah Wen-xiong kembali mengikuti kelas kami,” pungkas Qiu Qin-zhen.
“Di pusat perawatan itu, orang tua saya memiliki banyak kenangan indah. Setelah ibu saya meninggal dunia, saya mendorong ayah saya untuk tetap pergi karena ada teman baiknya di sana. Seusai mengikuti kelas, mereka bisa berjalan-jalan ke taman sekitar atau minum teh bersama. Ini membuatnya tetap terhubung dengan masyarakat serta bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kesehatan jiwa dan raganya,” kata Xin Wen-hui, Putri Xin Wen-xiong.
“Sebagai anak-anaknya, kami pun bisa mendorongnya untuk beraktivitas di luar. Terakhir, kami tetap harus berterima kasih kepada para relawan di pusat perawatan yang membuatnya gembira dan bahagia setiap hari,” pungkas Xin Wen-hui.
Meski telah lanjut usia, kita tetap merasa sukacita. Ini karena kita semua dipenuhi berkah. Saya mendengar bahwa kalian sangat bahagia. Yang terpenting, kalian berbuat baik sebagai orang baik. Saya yakin bahwa kalian yang hadir di sini hari ini selalu saling menjaga di tengah komunitas. Karena berjodoh dengan Tzu Chi, barulah kalian bisa berada di sini sekarang. Jadi, kalian semua dipenuhi berkah.
Para lurah di sini pasti merupakan lurah yang baik dan selalu menjaga warganya dengan baik. Yang lebih penting, kalian memperhatikan warga lansia dengan penuh cinta kasih. Kalian sungguh dipenuhi berkah. Saya selalu mengingatkan para insan Tzu Chi untuk berkomunikasi dengan para lurah agar mereka dapat lebih memperhatikan warga lansia.
Kini, banyak kaum muda yang meninggalkan kampung halaman. Ada yang pergi ke perkotaan untuk mengembangkan karier mereka. Ada pula yang saat kecil berkesempatan untuk menuntut ilmu di luar negeri, bahkan hingga berkeluarga dan berkarier di sana.
Banyak yang tidak pulang ke kampung halaman. Karena itu, banyak warga lansia yang hanya hidup bersama pasangannya atau hidup sebatang kara. Karena itulah, warga komunitas harus peduli satu sama lain, para lurah juga harus lebih memperhatikan warga lansia. Ini sangatlah penting.
“Jika kami yang telah lanjut usia hanya berdiam di rumah tanpa aktivitas apa pun, kami akan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Ini sama sekali tidak bermanfaat bagi kesehatan kami. Kami sangat beruntung dapat mengikuti kelas ini. Para relawan Tzu Chi sangat memperhatikan kami. Mereka mengajari kami berolahraga dan berbagi pengetahuan medis dengan kami. Saat menonton program ‘Master Cheng Yen Bercerita’, kami semua mendengarkan dengan sepenuh hati sehingga hati kami menjadi tenang,” kata Weng Wu Zhu-zi, Warga lansia di pusat perawatan lansia di Haixi, Annan, Tainan.
“Sejujurnya, dahulu sulit untuk mengajak warga lansia keluar. Setelah kelas ini diadakan, semua orang sangat gembira. Kini, semua orang bertanya, ‘Kapan Tzu Chi akan mengadakan kegiatan di sini lagi?’ Tanpa diminta, mereka pun keluar sendiri,” kata Jian Yu-zhu, Ketua Asosiasi Pengembangan Komunitas Houbo, Houbi, Tainan.
“Mengikuti kelas ini membuat warga lansia sukacita. Di Kelurahan Zhengwen, makin banyak yang bergabung, sekitar 40-an orang. Mengikuti kelas ini membuat kehidupan mereka berwarna dan mereka sangat sukacita. Rasa sukacita membuat tubuh mereka sehat sehingga mereka tidak perlu mengonsumsi obat,” kata Zhuang Wen-zhong, Lurah Zhengwen, Lingya, Kaohsiung.
Para lurah sungguh mengagumkan. Mereka harus menangani urusan kelurahan, memahami kondisi setiap warga, dan memperhatikan keselamatan warga lansia. Seorang lurah yang bertanggung jawab pasti memiliki kontribusi besar terhadap kelurahannya. Saya berharap semua lurah dapat memiliki semangat misi seperti ini.
Orang yang memiliki semangat misi sungguh penuh berkah. Kalian mungkin sangat sibuk, tetapi karena itulah, kalian bisa menciptakan berkah bagi masyarakat. Jika tidak sibuk, apa bedanya kalian dengan warga biasa? Untuk menjadi lurah, kalian harus bertekad dan berikrar untuk melayani masyarakat. Di sinilah letak nilai kehidupan kalian. Saya mendoakan semua lurah yang ada di sini. Kehidupan kalian sangat bernilai.
Dalam memberikan pelayanan, kalian harus mengemban tanggung jawab untuk mengasihi warga. Meski bukan seorang lurah, saya memperhatikan orang-orang di seluruh dunia. Apakah saya sibuk? (Ya.) Tidak. Setiap hari, saya bersukacita mendengar orang-orang membagikan kisah dan pengalaman.
Saat mendengar, saya memuji mereka dan mereka merasa sukacita. Saya juga mendengar dengan sukacita. Dengan menjadi orang baik dan berbuat baik, kita akan merasa bahagia setiap hari. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik, saya mendoakan Bodhisatwa sekalian.
Meski telah lanjut usia, kita tetap dapat berbuat baik. Sebelumnya, kalian mungkin tidak melakukannya. Kini, setelah bertemu dengan saya, kalian hendaknya melakukannya. Saya berharap semua orang dapat berbuat baik. Apakah ini sulit? Tidak.
Saya memulai Tzu Chi dengan mengimbau orang-orang untuk mendonasikan 50 sen setiap hari. Hingga kini, saya tetap menyerukan hal yang sama. Enam puluh tahun yang lalu, Tzu Chi tidak memiliki dana untuk menolong orang. Karena itu, saya berkata, “Sisihkanlah 50 sen setiap hari. Dengan himpunan donasi 50 sen ini, kita dapat menolong orang yang membutuhkan.”
Tzu Chi menyalurkan bantuan ke seluruh dunia. Orang yang membutuhkan di seluruh dunia sangat banyak. Karena itulah, kita menciptakan berkah bersama. Kita terkadang mendengar orang berkata, “Tzu Chi tidak menyalurkan bantuan di Taiwan, hanya menyalurkan bantuan ke negara lain.” Kita sangat beruntung dapat menyalurkan bantuan ke negara lain, tetapi jangan berkata bahwa Tzu Chi tidak menyalurkan bantuan di Taiwan. Jika Taiwan membutuhkan bantuan, berarti kita dilanda penderitaan.
Saya berharap tidak ada orang yang membutuhkan bantuan di Taiwan. Dengan kesungguhan hati dan cinta kasih, kita menghimpun donasi sedikit demi sedikit. Di mana pun ada yang membutuhkan, laporkanlah kepada Tzu Chi agar Tzu Chi dapat menjangkau mereka. Dengan menghimpun kekuatan, kekuatan kita akan sangat besar. Jika ada yang jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit, donasi 50 sen setiap hari dari segelintir orang saja tidaklah cukup. Ini membutuhkan himpunan cinta kasih dari banyak orang.
Di mana pun ada yang membutuhkan, setelah menerima laporan, kita akan segera bergerak. Di mana pun bencana besar terjadi dan sebesar apa pun bantuan yang dibutuhkan, kita dapat segera bergerak untuk memberikan bantuan. Akumulasi donasi 50 sen atau 1 dolar dalam keseharian dapat membentuk kekuatan besar untuk memberikan bantuan tepat waktu. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)
Saya berharap kalian juga dapat mendedikasikan diri di Tzu Chi. Dengan demikian, kalian dapat menjadi orang baik. Saya menyebut kalian “Bodhisatwa”. Bodhisatwa sangat bijaksana dan tahu untuk menciptakan berkah bagi orang banyak. Inilah yang disebut Bodhisatwa. Mari kita menjadi Bodhisatwa dunia. Saya mendoakan kalian. Terima kasih.
Saling mendampingi dengan sukacita dalam kelas lansia
Menjalankan ikrar untuk menjaga warga komunitas
Menjadi kaum lansia yang tetap berguna dan mengakumulasi cinta kasih
Memilih untuk mempraktikkan kebajikan dan menciptakan berkah Bersama