Dalam Pemberkahan Akhir Tahun yang diadakan setiap tahunnya, kita selalu melihat para relawan yang begitu rapi dan tertib. Mereka juga terlihat sangat agung. Bodhisatwa sekalian, inilah kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Inilah yang memperagung ladang pelatihan kita. Kita hendaknya selalu bersyukur.
Setiap hari, saya bersyukur. Saya bersyukur atas budi luhur Buddha, Dharma, dan Sangha. Ini disebut budi luhur Tiga Permata. Terhadap orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya serta guru yang mendidik dan membimbing saya, saya juga sangat bersyukur. Kini, saya berinteraksi dengan orang-orang yang penuh dengan kekuatan cinta kasih setiap hari. Para Bodhisatwa kita selalu mendukung saya.
Hari ini, saya melihat foto seseorang di sini. Selama beberapa hari ini, saya terus berkata bahwa saya sangat merindukan Relawan Du. Beliau selalu memberikan dukungan besar pada Tzu Chi. Saat saya datang ke Kaohsiung, beliau mengajak saya untuk melihat lahan ini. Itu sudah hampir 30 tahun yang lalu. Saat itu, bangunan di sini tidaklah banyak. Kini, gedung bertingkat makin banyak di sini.
Waktu sungguh berlalu dengan sangat cepat dan segalanya terus berubah. Seiring berjalannya waktu, perkotaan juga terus berkembang dan menjadi berbeda. Orang-orang yang saya lihat juga berbeda sekarang. Dahulu, rambut mereka masih hitam. Kini, rambut mereka telah beruban atau sepenuhnya putih. Saat becermin, saya mendapati bahwa rambut saya pun telah memutih. Demikianlah kehidupan. Perubahan ini disebut Dharma sejati. Jika ingin mengetahui seperti apa ajaran Buddha, kita harus terlebih dahulu memahami Dharma duniawi.
Sebagai manusia, kita pernah mengalami masa kecil, masa remaja, masa muda, dan masa paruh baya. Kini, kita telah lanjut usia dan rambut kita telah memutih. Seiring berjalannya waktu, segala sesuatu mengalami perubahan tanpa kita sadari. Karena itu, kita harus sangat tekun dan bersemangat. Saya juga mengingatkan diri sendiri untuk tekun dan bersemangat.
Kemarin, seorang anggota Sangha dari Korea Selatan berkunjung ke sini. Itu adalah pertemuan pertama kami dan saya sangat sukacita. Begitu bertemu, saya merasa sangat dekat dengannya. Beliau sangat tulus dan penuh cinta kasih. Menerima hadiah darinya, saya sangat gembira. Terima kasih.
Saya sangat gembira melihat hadiah darinya karena teringat akan Sutra Amitabha yang membahas tentang bunga teratai yang sebesar roda. Dahulu, saya merasa bahwa mustahil ada bunga sebesar roda. Kini, saya telah melihatnya.
Buddha sering menggunakan bunga teratai sebagai perumpamaan Dharma. Dharma sangatlah murni. Dharma bisa besar ataupun kecil. Bagaikan bunga teratai, Dharma sangatlah indah. Saya sangat sukacita melihat bunga itu. Hadiah yang paling bernilai ialah hadiah yang membuat orang sukacita melihatnya. Karena itu, saya sangat bersyukur. Saya bersyukur di dunia ini terdapat banyak permata. Hati yang penuh rasa sukacita dan cinta kasih, itulah permata. Permata tidak harus berupa perhiasan. Rasa sukacita juga merupakan permata.
Bodhisatwa sekalian, kalian semua menciptakan berkah. Selama bertahun-tahun, kalian terus mengakumulasi kekuatan cinta kasih. Saat ada sesuatu yang harus dilakukan, kalian selalu mengemban tanggung jawab dan senantiasa bersumbangsih. Kalian sungguh merupakan Bodhisatwa dunia.
Saya telah melihat perahu Dharma yang sangat indah. Perahu ini sangat bersih, tanpa noda, dan jernih. Kita akan selalu berdiri di atas perahu cinta kasih untuk menyelamatkan semua makhluk. Kalian membuatnya dengan kesungguhan hati. Ia terlihat sangat indah. Saya yakin bahwa kalian membuatnya dengan kesungguhan hati dan cinta kasih.
Kalian telah menguras pikiran untuk membuatnya. Setiap kata yang ditampilkan berasal dari lubuk hati kalian. Karena itu, saya bersyukur pada kalian. Setelah membangkitkan tekad, kalian benar-benar bergerak untuk membuatnya. Tanpa kesungguhan hati, kalian tidak akan bisa membuat perahu Dharma yang begitu agung dan indah. Rasa syukur saya tak habis untuk diungkapkan. Singkat kata, saya sangat sukacita dan tersentuh.
Saya juga sangat bersyukur kepada Bodhisatwa sekalian. Ingatlah dedikasi kalian di masa lalu dan masa kini. Di masa mendatang, kalian hendaknya lebih berdedikasi. Melalui video tadi, kita melihat bahwa Kaohsiung pernah beberapa kali dilanda bencana. Melihat dedikasi orang-orang pada saat itu, saya pun sangat tersentuh. Mari kita tulus berdoa semoga dunia aman dan tenteram. Hendaklah kita bertekad untuk menolong orang di area lain. Tentu saja, kita harus lebih banyak menciptakan berkah di komunitas sendiri.
Semoga orang-orang di seluruh dunia dapat bersungguh hati mendedikasikan diri di Tzu Chi dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Membangkitkan tekad Bodhisatwa tidaklah mudah. Kita semua memiliki jalinan jodoh dan telah membangkitkan Bodhicitta. Hendaklah kita menapaki Jalan Bodhisatwa dengan tulus. Bodhicitta adalah pikiran yang tercerahkan. Di Jalan Bodhisatwa, kita bersumbangsih bagi dunia dan menciptakan berkah bagi umat manusia.
Bodhisatwa sekalian, kita harus tulus dan bersungguh hati. Jangan meremehkan kekuatan cinta kasih. Kekuatan cinta kasih sangatlah besar. Jadi, mari kita senantiasa bersungguh hati dan mencurahkan cinta kasih bagi dunia, masyarakat, keluarga, dan anak cucu. Yang lebih penting, kita harus membalas budi orang tua dengan cinta kasih dan rasa bakti kita. Semua ini merupakan jalinan jodoh baik untuk menciptakan berkah bagi dunia.
Mari kita genggam jalinan jodoh ini untuk bersumbangsih bagi keluarga, masyarakat, dan dunia. Saya tulus mendoakan kalian semua. Semoga kalian memiliki jiwa dan raga yang sehat serta dapat menciptakan berkah bagi dunia. Saya mendoakan kalian semua. Terima kasih.
Jalinan jodoh istimewa di balik bunga teratai yang murni
Setiap hari bersyukur atas empat budi luhur
Tekun dan bersemangat menapaki Jalan Bodhisatwa
Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan perahu cinta kasih