“Sekitar 2 tahun yang lalu, kami mulai berpikir tentang program Silent Mentor di Universitas Tzu Chi. Saat ini, dapat dikatakan bahwa program ini adalah harta yang sangat berharga bagi seluruh Taiwan, bahkan bagi seluruh dunia. Kemudian, kami berpikir bahwa dengan kemajuan teknologi saat ini, apakah ada hal lain yang dapat kita lakukan bagi para Silent Mentor? Apakah kita dapat merangkum semua pembelajaran anatomi, histopatologi, serta kisah kehidupan mereka? Dari pemikiran ini, muncullah ide untuk mewawancarai para calon Silent Mentor saat mereka masih hidup. Proyek ini dijalankan oleh Zhu Shao-ying dan Guo Li-juan,” kata Zhang En-ting, Wakil kepala departemen pendidikan kedokteran RS Tzu Chi Hualien.
“Dalam wawancara ini, saya sering merasakan bagaimana ketika seseorang memiliki keyakinan, dia menyadari bahwa dirinya mampu bersumbangsih bagi orang lain. Terutama dalam menerima ajaran Master. Dalam proses menerima ajaran Master, mereka akan belajar menerapkannya dalam keseharian untuk mengatasi berbagai kesulitan. Saya merasa bahwa ini sangatlah berharga. Dengan kata lain, mereka tidak hanya yakin, tetapi juga mempraktikkannya,” kata Guo Li-juan, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tzu Chi.
“Lewat praktik nyata, mereka membuktikan bahwa ajaran ini benar-benar membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Meski banyak narasumber yang mungkin latar belakang pendidikannya tidak tinggi atau bahasa yang mereka gunakan terbatas, tetapi apa yang mereka sampaikan tetap sangat menyentuh. Ini karena semua yang mereka sampaikan merupakan pengalaman nyata dan hasil nyata yang mereka peroleh,” pungkas Guo Li-juan.
“Kakak Zhao-zhao dan keluarganya telah sepakat untuk tidak aktif menjalani pengobatan karena dia sudah mengalami gagal ginjal dan berada di saat-saat terakhir dalam hidupnya. Namun, di momen itu, Jalan Tol Suhua masih ditutup dan kereta api belum beroperasi. Meski begitu, dia tetap hanya memiliki satu tujuan, yaitu kembali ke Hualien dan menjadi Silent Mentor. Itulah harapan satu-satunya, yaitu menjadi Silent Mentor,” kata Lin Jing Xian, Qingxiushi Griya Jing Si.
“Wakil Kepala Xu dan Sekretaris Qiao pun berdiskusi dengannya dan berkata, ‘Jika Anda benar-benar ingin kembali ke Hualien, Anda harus dipasang alat bantu napas. Begitu kereta api kembali beroperasi, saya akan melepaskannya.’ Di saat fungsi ginjal dan berbagai organ tubuhnya menurun, hatinya tetap benar dan pikirannya tetap lurus,” pungkas Lin Jing Xian.
Hari ini, kita kembali mengenang sekelompok murid saya yang telah mendedikasikan diri untuk Tzu Chi. Dari Tzu Chi tidak ada hingga ada, mereka terus mendampingi. Bahkan, hingga napas terakhir, mereka tetap tidak meninggalkan Tzu Chi. Mereka sungguh-sungguh memegang prinsip melepaskan segalanya. Sejak masa hidup, mereka terus bersumbangsih. Saat saya ingin mendirikan rumah sakit, mereka banyak bersumbangsih.
Bahkan, ketika peletakan batu pertama akan dimulai dan dananya belum tahu ada di mana, seorang relawan berkata pada majikannya, “Saya akan bekerja untuk Anda selama 3 tahun. Namun, saya ingin meminjam 300 ribu dolar NT terlebih dahulu.” Ketika ditanya mengapa, dia menjawab, “Master ingin mendirikan rumah sakit dan kekurangan dana. Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya bisa menggunakan kedua tangan dan mengerahkan tenaga untuk mendukungnya.” Kisah seperti ini masih sangat banyak. Oleh karena itu, hendaknya kita menghargai misi kesehatan Tzu Chi.
Misi kesehatan hadir untuk menyelamatkan kehidupan. Para tenaga medis mendedikasikan kehidupan mereka untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Dengan cinta kasih agung, mereka bersumbangsih tanpa pamrih. Saya sering berkata bahwa saya sangat bersyukur.
Para relawan yang kita kenang hari ini telah bersumbangsih tanpa henti sejak awal mengenal saya. Ketika didera penyakit, Zhao-zhao tetap teguh untuk menolak menjalani operasi demi menjaga keutuhan tubuhnya karena jika ada satu sayatan saja di tubuhnya, tubuhnya tidak dapat didonorkan. Oleh karena itu, dia sangat teguh untuk tidak dioperasi. Begitu pula dengan adiknya, Sheng-sheng. Mereka adalah dua bersaudari yang menemani perjalanan saya dari awal hingga akhir. Saya sangat berterima kasih kepada mereka.
“Ada pelajaran yang tidak bisa dipelajari di luar sana, itulah yang diajarkan oleh Silent Mentor. Program Silent Mentor adalah wujud kebijaksanaan Master dan wujud cinta kasih agung dari para Silent Mentor. Pendidikan anatomi tidak lagi hanya sebatas memahami struktur tubuh manusia dalam ilmu kedokteran dasar, tetapi telah berkembang hingga ke kedokteran klinis untuk meningkatkan keterampilan bedah. Hal ini telah membawa manfaat bagi banyak pasien,” kata Wang Ben-rong, Ketua badan misi pendidikan Tzu Chi.
“Saat ini, kelas simulasi bedah sudah diikuti oleh 12 ribu dokter spesialis dari luar yang datang untuk belajar. Ada pula 1.700 mahasiswa kedokteran dari dalam dan luar negeri yang belajar di sini. Saya yakin bahwa pahala para Silent Mentor tidak terhingga,” pungkas Wang Ben-rong.
Saya teringat dengan kata-kata dari Li He-zhen, “Saat kalian hendak menjadi dokter, ingatlah bahwa tubuh saya boleh kalian sayat ribuan, bahkan puluhan ribu kali. Namun, jangan sekali pun kalian salah menyayat pasien.” Mendengar itu, saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh. Semuanya benar-benar memiliki kesatuan hati dan tekad. Setelah membangkitkan ikrar, semuanya sungguh-sungguh melindungi kehidupan dan menjaga keteguhan tekad seumur hidup.
Hari ini, mendengar sumbangsih insan Tzu Chi, saya teringat akan banyak orang. Terlalu banyak hal yang patut disyukuri. Saya sangat bersyukur atas pendidikan kedokteran yang terus berkembang. Berapa banyak dokter yang telah kita didik? Berapa banyak mahasiswa yang telah kita bimbing? Semuanya berpegang teguh pada tekad awal. Hingga saat ini, semuanya tetap melayani tanpa henti. Ketika Asosiasi Guru Tzu Chi didirikan, semuanya masih berambut hitam. Saat ini, satu per satu anggota senior kembali ke sini dengan rambut yang sudah memutih.
Seiring berlalunya waktu, usia kehidupan kita pun terus berkurang. Namun, saya selalu berkata, “Walau waktu kita hanya tersisa 1 hari, kita tidak boleh menyia-nyiakan manfaat yang bisa kita berikan bagi dunia.” Hendaknya kita bersumbangsih tanpa pamrih dan menggenggam nilai kehidupan dengan baik. Tadi, saya sudah mendengar tentang murid-murid saya yang sangat luar biasa. Mereka semua telah mengembangkan nilai kehidupan. Rasa syukur saya tidak habis untuk diungkapkan.
Terlebih lagi, di tengah kondisi iklim dunia yang tidak menentu, kita dapat melihat dan mendengar bagaimana insan Tzu Chi bergerak membawa bantuan di mana pun terjadi bencana. Semuanya menggenggam jalinan jodoh untuk mengembangkan nilai kehidupan. Inilah mengapa saya selalu mengucapkan terima kasih setiap hari. Setiap kali menginventarisasi kehidupan, saya selalu merasa bahwa kehidupan saya sangat bernilai.
Hendaknya semua orang dapat menggenggam nilai dalam kehidupan. Hendaknya kita bertekad untuk memanfaatkan setiap momen guna bersumbangsih bagi dunia. Tidak peduli berapa banyak sisa waktu kita, kita pasti memiliki jalinan jodoh. Hendaknya semua bersungguh hati untuk menggenggam waktu dan jalinan jodoh. Terima kasih.
Mendedikasikan diri untuk melindungi misi
Silent Mentor membina insan berbakat
Menginventarisasi kehidupan dan meneruskan jiwa kebijaksanaan
Mewariskan kebajikan dan berpegang teguh pada tekad awal