“Saat ini, kita telah memasuki era penggunaan lengan robotik. Kita tahu bahwa dalam beberapa tahun terakhir, tenaga perawat di Taiwan sangatlah kurang, terutama di ruang operasi yang sering kali lembur. Oleh karena itu, kita sering mendengar tingginya tingkat pengunduran diri di rumah sakit. Semuanya kekurangan perawat dan asisten perawat,” kata Wei Chang-guo Kepala pusat bedah lengan robotic.

“Ketika kami ingin mendirikan Pusat Lengan Robotik da Vinci, kami sangat berterima kasih kepada kepala departemen keperawatan, kepala ruang operasi, dan beberapa staf perawat senior yang telah berinisiatif mendaftar. Semuanya asing dan harus memulai dari awal. Tanpa bantuan mereka, operasi ini tidak dapat dijalankan,” lanjut Wei Chang-guo.

“Saya sangat bersyukur karena di era kekurangan tenaga kerja ini, kita dapat mendirikan pusat operasi ini dengan cepat. Pusat operasi ini adalah peralihan dari operasi tradisional dengan sayatan besar menjadi operasi dengan hanya beberapa luka kecil. Dari sisi pasien, hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi pemulihan mereka,” pungkas Wei Chang-guo.

Mendengar hal ini membuat saya merasa senang. Melihatnya, saya merasakan kehangatan. RS Tzu Chi Dalin, sebuah rumah sakit besar di tengah sawah, telah berusia lebih dari 20 tahun. Semuanya telah bekerja dengan sungguh-sungguh dan tulus hati. Terlebih lagi, rumah sakit di tengah sawah ini memiliki kualitas pelayanan medis yang setara dengan rumah sakit di perkotaan. Tempat ini memiliki sebuah keistimewaan, yaitu asrama tenaga medis dan rumah sakit yang berdekatan. Ini terlihat seperti kompleks besar.

Saya melihat para dokter membawa jubah putih mereka dan berjalan dari asrama menuju rumah sakit. Ketika berdiri di atas dan melihat ke bawah, saya merasa ini adalah pemandangan yang sangat indah. Lingkungan sekitarnya sangat hijau. Jika dilihat dari kejauhan, ini tampak seperti sebuah kota dengan bangunan tinggal yang tidak sedikit.

Dahulu, ketika saya datang melihat lahan ini, sekitarnya belum banyak rumah, hanya ada ladang tebu. Ketika kita mulai membangun rumah sakit dan para tenaga medis berkumpul, Dalin pun mulai berkembang. Ini semua berhubungan dengan waktu. Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk pun makin bertambah; seiring berkembangnya infrastruktur, orang-orang dari luar kota pindah ke tempat ini. Terlebih lagi, rumah sakit kita memiliki sistem pelayanan medis yang menyeluruh.

Di wilayah ini, kita bisa mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan pemandangan yang indah. Setiap kali datang ke sini, saya selalu memuji tempat ini. Saya merasa sungguh dipenuhi berkah. Dahulu, saya setiap bulan pasti datang ke sini. Sekarang, saya hanya datang 6 bulan sekali. Setiap kali datang ke sini, saya melihat perkembangan yang sangat cepat. Begitu pula dengan kualitas medis kita yang meningkat pesat. Oleh karena itu, datang ke sini kali ini membuat saya merasa tenang dan bersyukur.

RS Tzu Chi Hualien adalah rumah sakit pertama yang kita bangun. Untuk membangun rumah sakit di Hualien tidaklah mudah. Saat itu, saya sangat khawatir mengenai dana untuk pembangunan rumah sakit. Mencari dokter untuk melayani di Taiwan Timur pun sulit karena Taiwan Timur merupakan daerah di balik pegunungan dengan sarana transportasi yang kurang memadai.

Namun, saya sangat berterima kasih kepada Dokter Chen Kai-mo, kepala departemen bedah RS Universitas Nasional Taiwan. Beliau adalah orang pertama yang merespons dan mendukung kita. Demi membantu RS Tzu Chi Hualien, banyak dokter spesialis yang datang atas rekomendasi dari beliau. Saya sangat berterima kasih kepada Dokter Chen Kai-mo.

Tentu saja, saya juga berterima kasih kepada Profesor Tseng Wen-ping dan Yang Sze-piao yang telah sepenuh hati dan tekad dalam mendukung saya. Saat itu, saya baru berusia 30 hingga 40-an tahun. Ketika mulai membangun rumah sakit, saya bertanya-tanya dengan identitas apa saya akan membangun rumah sakit di Hualien. Namun, saya berhasil mendapatkan dukungan dari banyak profesor, kepala RS, dan wakil kepala RS dari Universitas Nasional Taiwan.

Jadi, saya selalu merasa bahwa seumur hidup ini, saya sangat dipenuhi berkah karena banyak orang yang mendukung saya sehingga sistem pelayanan medis kita di Taiwan menerima banyak pujian. Tentu saja, banyak orang memuji dokter, perawat, pelayanan medis, dan pelayanan administrasi yang telah dilakukan dengan baik. Saya merasa tersentuh.

Mendengar dan melihat laporan dari berbagai departemen, hati saya merasa sakit karena adanya pasien yang sakit dan menderita. Sebagai perahu cinta kasih di lautan penderitaan, kita tidak pernah bertanya kepada pasien tentang berapa biaya operasi yang dapat mereka bayar. Hal yang kita takutkan bukanlah mereka tidak memiliki uang. Kita khawatir jika kondisi mereka memburuk.

Lihatlah anak berusia belasan tahun itu. Para dokter menyambungkan kembali 5 jari tangannya. Ini memengaruhi seumur hidupnya. Seorang anak berusia belasan tahun dan seorang nenek berusia 90-an tahun sama-sama menjalani operasi di rumah sakit kita. Spesialisasi di rumah sakit kita sangat lengkap. Saya merasa sangat bersyukur.

Kunjungan kali ini membuat saya tersentuh. Semuanya sangat dekat dengan hati saya. Kalian telah memiliki hati yang sama seperti saya dan menjadikan tekad saya sebagai tekad kalian. Hati saya adalah hati kalian. Saya telah menjadikan hati Buddha sebagai hati saya. Saya percaya kepada para dokter. Saya menganggap dokter sebagai Buddha hidup dan perawat sebagai Bodhisatwa Avalokitesvara. Saya sering menyampaikan ini kepada kalian.

Di dalam rumah sakit tidak hanya ada dokter dan perawat, tetapi ada pula ahli laboratorium, apoteker, berbagai spesialis, dan terapis. Semuanya memakai jubah putih yang melambangkan kemurnian dan ketulusan. Semuanya memiliki hati Bodhisatwa dan hati Buddha. Semua Buddha datang ke dunia demi meringankan penderitaan semua makhluk.

Pelayanan medis di kota kecil makin mendunia
Melindungi kesehatan dengan cinta kasih
Mewariskan cinta kasih dan ikrar Buddha melalui misi kesehatan
Menggerakkan perahu cinta kasih untuk mengangkut semua makhluk